Selasa, 18 Oktober 2011

Kampung Keputran, Tak Sekadar Pasar (Tempat Bermukim Permaisuri)

Nama kampung Keputran ternyata telah ada sejak zaman Kerajaan Surabaya berdiri sekitar tahun 1293. Menjadi tempat tinggal khusus bagi keluarga kerajaan, terutama permaisuri, selir, dan para putri raja yang masih lajang.

Nama Keputran lebih cocok bermakna sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan laki-laki. Tapi, Keputran yang ada di wilayah Kerajaan Surabaya yang berdiri sejak 31 Mei 1293 dan kini tanggal itu dirayakan sebagai hari jadi Kota Surabaya, lebih banyak diyakini sebagai tempat tinggal permaisuri, selir, dan putri raja yang masih lajang.

Hal itu berdasarkan penemuan nama-nama kampung lain di Kota Surabaya yang juga diyakini saling berkaitan. Kampung Kraton, yang sekarang berada di wilayah administrasi Kelurahan Bubutan, diduga sebagai tempat kerajaan Surabaya bertempat. Kemudian di kampung yang kini disebut Kepatihan, patut diduga sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan yang laki-laki. Keputran sendiri disebut-sebut diambil dari nama putri-putri yang kemudian disebut Keputren atau kemudian berlanjut menjadi Keputran.

Salah satu sesepuh warga Keputran, H Usman Romli, 91, warga Gang IX/29, mengungkapkan, setelah dikenal sebagai kampung keputren di zaman Kerajaan Surabaya, saat Belanda masuk Indonesia tahun 1600, kampung Keputran menjadi kampung khusus untuk warga pribumi yang berkedudukan tinggi.

”Mereka seperti adipati dan lain sebagainya. Sementara pejabat-pejabat Belanda dan keluarganya tinggal di sekitaran kampung Keputran, seperti di Tegalsari, Jl Kartini, Dr Soetomo, dan sekitarnya,” jelas Usman.

Saat pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo pada sebelum 1900-an, kampung Keputran menjadi terbelah. Menjadi Keputran Megersari dan Keputran Kejambon serta Keputran Panjunan.

Kini Keputran Megersari sudah menjadi Keputran saja dan berada di sisi timur Jl Raya Urip Sumoharjo dan dua Keputran lain, yaitu Panjunan dan Kejambon berada di sisi barat Jl Urip Sumoharjo. Selanjutnya, di sisi paling timur kampung, yang kini Jl Keputran, menjadi permukiman bagi warga Tionghoa dan Belanda, yang bekerja sebagai pedagang. Terutama di sisi selatan. Di situlah Pasar Keputran lama yang berdagang berbagai jenis barang kebutuhan pokok, beserta barang seperti yang saat ini masih tersisa, yaitu janur, tebu, manggar, serta bunga. Sementara pasar di sebelah utara, yang kini dikenal sebagai Pasar Keputran Baru ada sekitar tahun 1955.

”Dulunya pasar umum dan pasar rombeng, berupa pakaian dan peralatan rumah tangga. Belum menjadi pasar sayur seperti sekarang ini,” tambah Usman.

Bersamaan dengan pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo di zaman Belanda, di tengah lahan jalan itu terdapat masjid bernama Masjid Mubarok. Masjid itu kemudian oleh masyarakat digeser dan ditunggu proses pemindahan dan pembangunannya hingga selesai di dalam kampung Keputran, yang kini bisa ditemui di Keputran Gang V.

Sekitar tahun 1955-1970-an, kampung Keputran banyak didatangi dan menjadi tempat tinggal ulama-ulama dari daerah lain Kota Surabaya. Salah satunya KH Abdul Rohman, dari daerah Pacar Keling, Tambaksari. Bersamaan dengan itu, kampung Keputran mulai dikenal sebagai kampung santri. Sementara di tahun yang sama, perkembangan Pasar Keputran utara dan selatan mengalami peningkatan.

Mulai tahun 1960-an, Usman menyebutkan, para distributor sayur-mayur mulai berdatangan dari luar daerah Kota Surabaya dan langsung menyerbu Pasar Keputran hingga meluber ke jalan-jalan raya yang ada di sekitarnya. Dan luberan pasar itu pun berlangsung hingga tahun 2010. Tepatnya pada Mei 2010, pemerintah Kota Surabaya berhasil menggusur pedagang yang sudah berdagang di jalanan sekitar Pasar Keputran sejak puluhan tahun lalu.

Meski tidak lagi berdagang di jalanan, namun nama Pasar Keputran telah berubah menjadi kawasan usaha sayur mayur, rempah-rempah, dan bumbu-bumbu yang berkembang pesat dan menjadi jujugan bagi seluruh warga di Kota Surabaya dan sekitarnya.

Suasana pasar menjadi hiruk pikuk dan ramai sejak pukul 13.00 WIB hingga pagi pukul 08.00 WIB. Di siang hari, para distributor sayur mayur dari berbagai daerah datang untuk menyuplai di pasar itu. Selanjutnya mulai gelap datang, pasar berubah menjadi ajang transaksi antarpembeli dan pedagang hingga pagi hari.

Tak hanya mobil para distributor sayur saja yang memenuhi arena ini bila proses dagang terjadi. Tapi juga ratusan becak ronjotan. Yaitu becak khas pengangkut sayur mayur yang bisa disewa para pembeli sayur mayur di Pasar Keputran.

* dikutip dari : kissanak.wordpress.com

------- Cintai Surabaya, Bangun Surabaya -------

Tidak ada komentar: