Pada akhirnya kecerdikan otaklah yang bisa mengalahkan Surabaya.
Bukan otot dan Bukanlah dengan pedang.
WINONGAN hanyalah sebuah kota kecamatan di wilayah kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang letaknya berada di sebelah tenggara Surabaya. Di kota kecil itulah pada 1614, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Suratani, mendirikan pusat komandonya sekaligus mengordinasikan serangan Mataram ke daerah timur. Sejak 1614, mulai dari Winongan, balantentara Mataram terus merongrong kekuasaan Surabaya. Serangan demi serangan pun dilakukan ke berbagai wilayah kekuasaan Surabaya di pantai utara Jawa, mulai dari Tuban, Gresik dan terus merangsek ke jantung kekuasaan Surabaya.
Ada dua kerajaan yang menjadi musuh utama Mataram, yakni Surabaya di timur dan Banten di barat. Sejak kepemimpinan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613), Kerajaan Mataram gigih memperluas pengaruhnya di Jawa. Beberapa tahun menjelang akhir kekuasaanya, Raja yang kemudian setelah meninggal digelari sebagai Panembahan Seda Ing Krapyak itu memang menjalankan politik luar negeri yang aktif. Bahkan, mengutip sejarawan HJ. De Graaf, Panembahan mempekerjakan Juan Pedro Italiano, seorang petualang Italia, yang telah masuk Islam, untuk melobi para pedagang Belanda.
Semasa hidupnya Panembahan Krapyak gencar memerangi Surabaya namun tak pernah berhasil menguasai kota yang terkenal memiliki pertahanan yang kuat itu. Ketika Sultan Agung menggantikan posisi Panembahan Krapyak pada 1613, raja baru itu meneruskan pekerjaan sang ayah yang tak sempat berlanjut karena keburu wafat pada 1 Oktober 1613. Pada saat Sultan Agung memerintah, sebuah taktik lain dijalankan. Alih-alih menyerang langsung ke Surabaya, sultan yang sebelum dinobatkan bernama Raden Mas Jatmika itu memilih untuk menyerang lebih dulu daerah-daerah taklukan Surabaya.
Beberapa bulan setelah penobatannya, Sultan Agung langsung memberikan titah kepada Tumenggung Suratani yang disertai ribuan balatentara Mataram untuk segera berangkat menyerang daerah timur. Sultan Agung memberikan perintah dengan acaman: bunuh siapa pun yang mundur dari gelanggang pertempuran. Target serangan pertama adalah Pasuruan. Namun serangan itu gagal karena tentara Pasuruan bertempur habis-habis mempertahankan kotanya. Walhasil balatentara Mataram mundur ke Winongan dan bertahan di daerah itu dengan membangun perintang yang sangat kuat untuk melindungi diri dari kemungkinan serangan balasan.
Sementara menyusun kekuatan untuk serangan ulang, Tumenggung Suratani memerintahkan Tumenggung Alap-Alap merebut Lumajang dan Renong. Namun kedua bupati daerah itu berhasil melarikan diri. Tumenggung Alap-Alap dan pasukannya yang berhasil menguasai kota, menjarah harta benda milik bupati, bahkan menculik para perempuan untuk dibawa pulang. Aksi penyerangan dilanjutkan sampai ke Malang di mana pasukan Tumenggung Alap-Alap berhasil menangkap Rangga Toh Jiwa, bupati Malang yang sempat melarikan diri dari kejaran pasukan.
Cara pasukan Mataram menebar aksi teror ini cukup berhasil menimbulkan ketakutan di kalangan penguasa daerah-daerah protektorat Surabaya. Dalam jangka waktu yang singkat, Mataram terus menggempur daerah-daerah di Jawa Timur. Ekspedisi demi ekspedisi dikirim, mengoyak rasa tenteram para penguasanya. Tak semua serangan Mataram berhasil. Dalam beberapa serangan balasan, pasukan Mataram kocar-kacir, seperti yang terjadi pada pertempuran di Sungai Andaka (kini disebut sungai Brantas), di mana dua pemimpin pasukan Mataram, Aria Suratani dan Ngabei Ketawangan tewas di tempat.
Menyerang terlebih dahulu kota-kota satelit di sekitar Surabaya agaknya bertujuan untuk memutus jalur logistik ke Surabaya. Sebagai kota pelabuhan, Surabaya menggantungkan dirinya kepada daerah-daerah pedalaman (hinterland) untuk suplai berbagai kebutuhan sehari-hari. Bahkan kebutuhan atas air pun diambil dari kali Mas, salah satu dari dua cabang kali pecahan aliran Sungai Brantas yang melintasi Mojokerto. Kelak lewat sungai Brantas Surabaya bisa dibuat bertekuklutut.
Taktik demikian ditempuh Mataram karena serangan langsung terhadap Surabaya tak pernah berhasil. Surabaya terlalu kuat, apalagi bala bantuan dari Madura selalu siap setiap saat mempertahankan Surabaya. Selama bertahun-tahun, semenjak naih takhta, Sultan Agung terus melancarkan penyerbuan ke Surabaya. Seringkali menemui kegagalan tapi dia tak pernah jera untuk melakukan serangan.
Apa yang sebenarnya mendorong sultan dari trah Ki Ageng Pemanahan itu begitu ngotot menaklukkan Surabaya? Sejarawan Universitas Gadjah Mada Dr. Sri Margana mengatakan perebutan legitimasi kekuasaan religius adalah alasan utama kenapa Mataram gigih melancarkan perang terhadap Surabaya. “Mataram membutuhkan legitimasi keislaman dan itu dimiliki oleh Surabaya karena mereka keturunan para wali, sementara Mataram keturunan petani,” kata doktor lulusan Leiden University itu.
Menurut Margana legitimasi kekuasaan berdasarkan tahkta suci agama menjadi penting karena dengan itulah Surabaya memiliki pengaruh yang sangat luas. Konsepsi kekuasaan yang demikian bersumbu pada kepercayaan di kalangan masyarakat Jawa bahwa raja adalah pusat kosmis yang memiliki pengaruh baik pada alam maupun masyarakat. Raja juga dipercaya sebagai keturunan nabi-nabi dan dewa-dewa. Anggapan itu dikaitkan dengan kepercayaan magis dari wahyu raja (pulung ratu) dan konsep pewaris keturunan darah raja (trahing kusuma rembesing madu wijining andhana tapa), hanya orang yang memiliki keturunan darah raja lah yang berhak menjadi raja (Poesponegoro:1992. 60). “Sementara trah Pemanahan itu kan trahnya petani, jadi mereka berada satu derajat di bawah trah wali seperti penguasa Surabaya, itu alasan Mataram menyerang Surabaya,” kata Margana.
Maka Mataram berani menempuh jalan mana pun untuk mengalahkan dan menguasai Surabaya. Cara Sultan Agung yang menggempur secara periodik wilayah kekuasaan setahap demi setahap menimbulkan korban yang cukup besar di pihak Mataram. Namun dia terus mencari cara agar Surabaya yang makin lama makin terdesak itu menyerah, terutama sejak kejatuhan Tuban pada 1619 menyusul kekalahan Madura pada 1624.
Setelah bertempur selama hampir satu dekade lebih, akhirnya Mataram berhasil memasuki pinggiran kota Surabaya yang pertahanannya tak terkalahkan itu. Pasukan Mataram di bawah pimpinan dua panglima perangnya, Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-Alap menggempur Surabaya pada 1624. Dari sumber Belanda, sebagaimana dikutip dari De Graaf (2002), kendati sudah berhasil menembus barikade pertahanan Surabaya, pasukan Mataram masih mengalami kesulitan mematahkan pertahanan pasukan Surabaya yang gigih mempertahankan pusat kotanya.
Tentara Mataram pun kembali menebar teror kepada penduduk pinggiran Surabaya. Sawah dan ladang milik penduduk diporak-porandakan dengan maksud para penduduk yang tetap bertahan segera menyerah seperti juga yang dilakukan oleh penduduk Sampang, Madura ketika mereka diserang Mataram beberapa waktu sebelumnya. Pertempuran dengan pihak Surabaya, mengutip De Graaf, “sudah sampai tingkat kritis. Sebanyak 80 ribu orang mengepung kota ini.” Karena alotnya pertahanan pasukan Surabaya, Mataram memilih untuk bersikap defensif sambil mencari akal untuk menyusun serangan mematikan kepada pihak Surabaya. Mereka pun mendirikan perkemahan di sekitar Mojokerto sambil menunggu waktu tepat melancarkan serangan.
Tumenggung Mangun Oneng yang diberi mandat memimpin serangan ke Surabaya kali ini melancarkan taktik “bendungan Jepara” untuk menyumbat aliran sungai Brantas yang menjadi sumber air bagi penduduk Surabaya. Teknik pembendungan tersebut menggunakan berbatang pohon kelapa dan bambu yang diletakkan membentang di dasar sungai sampai dengan permukaannya. Setelah air tersumbat dan hanya mengalir sedikit saja, pasukan Mataram menceburkan bangkai binatang dan berkeranjang buah aren (latin: Arenga saccharifera). Bangkai menyebabkan air berbau busuk sementara buah aren menimbulkan gatal-gatal yang luar biasa hebatnya.
Air yang tercemar itu menyebabkan penduduk Surabaya terkena wabah penyakit batuk dan gatal-gatal. Taktik yang mendatangkan penderitaan bagi rakyat Surabaya itu sampai ke telinga raja. Sebuah pertemuan digelar oleh kalangan istana Surabaya tapi raja terlalu malu untuk memaklumkan kekalahannya pada Mataram. Maka diutuslah Pangeran Pekik, putra sang raja, beserta seribu tentara Surabaya untuk menemui Tumenggung Mangun Oneng. Melalui Demang Urawan, surat maklumat kekalahan Raja Surabaya disampaikan kepada Tumenggung Mangun Oneng. Menurut catatan VOC sebagai mana dikutip De Graaf, Surabaya dinyatakan kalah pada 27 Okotober 1625. Sejak saat itu Mataram mulai mencengkeramkan kuku kekuasannya di Jawa Timur.
* sumber : http://www.majalah-historia.com
------- Kenali Surabaya, Cintai Surabaya dan Bangun Surabaya -------
harus menjadi yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, masyarakat dan negara..
Selasa, 18 Oktober 2011
Kampung Keputran, Tak Sekadar Pasar (Tempat Bermukim Permaisuri)
Nama kampung Keputran ternyata telah ada sejak zaman Kerajaan Surabaya berdiri sekitar tahun 1293. Menjadi tempat tinggal khusus bagi keluarga kerajaan, terutama permaisuri, selir, dan para putri raja yang masih lajang.
Nama Keputran lebih cocok bermakna sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan laki-laki. Tapi, Keputran yang ada di wilayah Kerajaan Surabaya yang berdiri sejak 31 Mei 1293 dan kini tanggal itu dirayakan sebagai hari jadi Kota Surabaya, lebih banyak diyakini sebagai tempat tinggal permaisuri, selir, dan putri raja yang masih lajang.
Hal itu berdasarkan penemuan nama-nama kampung lain di Kota Surabaya yang juga diyakini saling berkaitan. Kampung Kraton, yang sekarang berada di wilayah administrasi Kelurahan Bubutan, diduga sebagai tempat kerajaan Surabaya bertempat. Kemudian di kampung yang kini disebut Kepatihan, patut diduga sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan yang laki-laki. Keputran sendiri disebut-sebut diambil dari nama putri-putri yang kemudian disebut Keputren atau kemudian berlanjut menjadi Keputran.
Salah satu sesepuh warga Keputran, H Usman Romli, 91, warga Gang IX/29, mengungkapkan, setelah dikenal sebagai kampung keputren di zaman Kerajaan Surabaya, saat Belanda masuk Indonesia tahun 1600, kampung Keputran menjadi kampung khusus untuk warga pribumi yang berkedudukan tinggi.
”Mereka seperti adipati dan lain sebagainya. Sementara pejabat-pejabat Belanda dan keluarganya tinggal di sekitaran kampung Keputran, seperti di Tegalsari, Jl Kartini, Dr Soetomo, dan sekitarnya,” jelas Usman.
Saat pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo pada sebelum 1900-an, kampung Keputran menjadi terbelah. Menjadi Keputran Megersari dan Keputran Kejambon serta Keputran Panjunan.
Kini Keputran Megersari sudah menjadi Keputran saja dan berada di sisi timur Jl Raya Urip Sumoharjo dan dua Keputran lain, yaitu Panjunan dan Kejambon berada di sisi barat Jl Urip Sumoharjo. Selanjutnya, di sisi paling timur kampung, yang kini Jl Keputran, menjadi permukiman bagi warga Tionghoa dan Belanda, yang bekerja sebagai pedagang. Terutama di sisi selatan. Di situlah Pasar Keputran lama yang berdagang berbagai jenis barang kebutuhan pokok, beserta barang seperti yang saat ini masih tersisa, yaitu janur, tebu, manggar, serta bunga. Sementara pasar di sebelah utara, yang kini dikenal sebagai Pasar Keputran Baru ada sekitar tahun 1955.
”Dulunya pasar umum dan pasar rombeng, berupa pakaian dan peralatan rumah tangga. Belum menjadi pasar sayur seperti sekarang ini,” tambah Usman.
Bersamaan dengan pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo di zaman Belanda, di tengah lahan jalan itu terdapat masjid bernama Masjid Mubarok. Masjid itu kemudian oleh masyarakat digeser dan ditunggu proses pemindahan dan pembangunannya hingga selesai di dalam kampung Keputran, yang kini bisa ditemui di Keputran Gang V.
Sekitar tahun 1955-1970-an, kampung Keputran banyak didatangi dan menjadi tempat tinggal ulama-ulama dari daerah lain Kota Surabaya. Salah satunya KH Abdul Rohman, dari daerah Pacar Keling, Tambaksari. Bersamaan dengan itu, kampung Keputran mulai dikenal sebagai kampung santri. Sementara di tahun yang sama, perkembangan Pasar Keputran utara dan selatan mengalami peningkatan.
Mulai tahun 1960-an, Usman menyebutkan, para distributor sayur-mayur mulai berdatangan dari luar daerah Kota Surabaya dan langsung menyerbu Pasar Keputran hingga meluber ke jalan-jalan raya yang ada di sekitarnya. Dan luberan pasar itu pun berlangsung hingga tahun 2010. Tepatnya pada Mei 2010, pemerintah Kota Surabaya berhasil menggusur pedagang yang sudah berdagang di jalanan sekitar Pasar Keputran sejak puluhan tahun lalu.
Meski tidak lagi berdagang di jalanan, namun nama Pasar Keputran telah berubah menjadi kawasan usaha sayur mayur, rempah-rempah, dan bumbu-bumbu yang berkembang pesat dan menjadi jujugan bagi seluruh warga di Kota Surabaya dan sekitarnya.
Suasana pasar menjadi hiruk pikuk dan ramai sejak pukul 13.00 WIB hingga pagi pukul 08.00 WIB. Di siang hari, para distributor sayur mayur dari berbagai daerah datang untuk menyuplai di pasar itu. Selanjutnya mulai gelap datang, pasar berubah menjadi ajang transaksi antarpembeli dan pedagang hingga pagi hari.
Tak hanya mobil para distributor sayur saja yang memenuhi arena ini bila proses dagang terjadi. Tapi juga ratusan becak ronjotan. Yaitu becak khas pengangkut sayur mayur yang bisa disewa para pembeli sayur mayur di Pasar Keputran.
* dikutip dari : kissanak.wordpress.com
------- Cintai Surabaya, Bangun Surabaya -------
Nama Keputran lebih cocok bermakna sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan laki-laki. Tapi, Keputran yang ada di wilayah Kerajaan Surabaya yang berdiri sejak 31 Mei 1293 dan kini tanggal itu dirayakan sebagai hari jadi Kota Surabaya, lebih banyak diyakini sebagai tempat tinggal permaisuri, selir, dan putri raja yang masih lajang.
Hal itu berdasarkan penemuan nama-nama kampung lain di Kota Surabaya yang juga diyakini saling berkaitan. Kampung Kraton, yang sekarang berada di wilayah administrasi Kelurahan Bubutan, diduga sebagai tempat kerajaan Surabaya bertempat. Kemudian di kampung yang kini disebut Kepatihan, patut diduga sebagai tempat tinggal kerabat kerajaan yang laki-laki. Keputran sendiri disebut-sebut diambil dari nama putri-putri yang kemudian disebut Keputren atau kemudian berlanjut menjadi Keputran.
Salah satu sesepuh warga Keputran, H Usman Romli, 91, warga Gang IX/29, mengungkapkan, setelah dikenal sebagai kampung keputren di zaman Kerajaan Surabaya, saat Belanda masuk Indonesia tahun 1600, kampung Keputran menjadi kampung khusus untuk warga pribumi yang berkedudukan tinggi.
”Mereka seperti adipati dan lain sebagainya. Sementara pejabat-pejabat Belanda dan keluarganya tinggal di sekitaran kampung Keputran, seperti di Tegalsari, Jl Kartini, Dr Soetomo, dan sekitarnya,” jelas Usman.
Saat pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo pada sebelum 1900-an, kampung Keputran menjadi terbelah. Menjadi Keputran Megersari dan Keputran Kejambon serta Keputran Panjunan.
Kini Keputran Megersari sudah menjadi Keputran saja dan berada di sisi timur Jl Raya Urip Sumoharjo dan dua Keputran lain, yaitu Panjunan dan Kejambon berada di sisi barat Jl Urip Sumoharjo. Selanjutnya, di sisi paling timur kampung, yang kini Jl Keputran, menjadi permukiman bagi warga Tionghoa dan Belanda, yang bekerja sebagai pedagang. Terutama di sisi selatan. Di situlah Pasar Keputran lama yang berdagang berbagai jenis barang kebutuhan pokok, beserta barang seperti yang saat ini masih tersisa, yaitu janur, tebu, manggar, serta bunga. Sementara pasar di sebelah utara, yang kini dikenal sebagai Pasar Keputran Baru ada sekitar tahun 1955.
”Dulunya pasar umum dan pasar rombeng, berupa pakaian dan peralatan rumah tangga. Belum menjadi pasar sayur seperti sekarang ini,” tambah Usman.
Bersamaan dengan pembangunan Jl Raya Urip Sumoharjo di zaman Belanda, di tengah lahan jalan itu terdapat masjid bernama Masjid Mubarok. Masjid itu kemudian oleh masyarakat digeser dan ditunggu proses pemindahan dan pembangunannya hingga selesai di dalam kampung Keputran, yang kini bisa ditemui di Keputran Gang V.
Sekitar tahun 1955-1970-an, kampung Keputran banyak didatangi dan menjadi tempat tinggal ulama-ulama dari daerah lain Kota Surabaya. Salah satunya KH Abdul Rohman, dari daerah Pacar Keling, Tambaksari. Bersamaan dengan itu, kampung Keputran mulai dikenal sebagai kampung santri. Sementara di tahun yang sama, perkembangan Pasar Keputran utara dan selatan mengalami peningkatan.
Mulai tahun 1960-an, Usman menyebutkan, para distributor sayur-mayur mulai berdatangan dari luar daerah Kota Surabaya dan langsung menyerbu Pasar Keputran hingga meluber ke jalan-jalan raya yang ada di sekitarnya. Dan luberan pasar itu pun berlangsung hingga tahun 2010. Tepatnya pada Mei 2010, pemerintah Kota Surabaya berhasil menggusur pedagang yang sudah berdagang di jalanan sekitar Pasar Keputran sejak puluhan tahun lalu.
Meski tidak lagi berdagang di jalanan, namun nama Pasar Keputran telah berubah menjadi kawasan usaha sayur mayur, rempah-rempah, dan bumbu-bumbu yang berkembang pesat dan menjadi jujugan bagi seluruh warga di Kota Surabaya dan sekitarnya.
Suasana pasar menjadi hiruk pikuk dan ramai sejak pukul 13.00 WIB hingga pagi pukul 08.00 WIB. Di siang hari, para distributor sayur mayur dari berbagai daerah datang untuk menyuplai di pasar itu. Selanjutnya mulai gelap datang, pasar berubah menjadi ajang transaksi antarpembeli dan pedagang hingga pagi hari.
Tak hanya mobil para distributor sayur saja yang memenuhi arena ini bila proses dagang terjadi. Tapi juga ratusan becak ronjotan. Yaitu becak khas pengangkut sayur mayur yang bisa disewa para pembeli sayur mayur di Pasar Keputran.
* dikutip dari : kissanak.wordpress.com
------- Cintai Surabaya, Bangun Surabaya -------
Enam Versi Asal Kata SURABAYA
Sebenarnya darimana asal kata Surabaya? saat ini banyak versi yang menerangkan ihwal munculnya nama Surabaya. Dan disini, penulis akan menerangkan satu persatu di catatan ini.
Saya menemukan setidaknya enam cerita tentang hal ihwal nama Surabaya. Namun, bisa jadi di luaran sana versi itu bisa jadi bertambah banyak. Tema yang jamak ditulis ini masih menarik dinikmati lagi. Tulisan ini mengandung maksud untuk mengungkapkan sejak kapan nama Surabaya pertama kali disebut. Sebab banyak orang sudah terlanjur percaya jika Surabaya adalah nama baru kelanjutan daerah yang bernama Ujung Galuh. Bukan daerah yang berdiri sendiri sejak lama.
Keterangan pertama menyebutkan,
Bahwa Surabaya berasal dari kata Churabhaya, Ketarangan tentang nama ini itu ditemukan oleh orang-orang ahli arkelogi di prasasti Trowulan I yang dibuat tahun 1358 Masehi. Di dalam prasasti tertulis nama sebuah desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Prasasti itu masih tersimpan di Trowulan, namun nama desanya tidak akan bisa ditelusuri lagi dimana. Bisa jadi desa itu sekarang telah berkembang menjadi kota besar. Surabaya.
Versi yang kedua mengakui,
Nama Surabaya pertama kali disebut karena tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu ada kata Surabhaya, tercatat ada perjalanan pesiar alias berwisata yang dilakukan Raja Majapahit, Hayam Wuruk pada pada 1365. dijelaskan sang raja melepas lelah di muara kali brantas yang bernama Surabhaya.
Namun nama Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sejarahwan Surabaya zaman Belanda, GH Von Faber, dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota. Red) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan 1270 M.
Sedangkan versi ketiga,,
Nama Surabaya berkait dengan cerita perkelahian hidup mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar 1929, Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono memimpin daerah itu.
Jayengrono makin kuat karena menguasai ilmu Buaya, Majapahit belakangan merasa terancam. Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di Sungai Kalimas. Perkelahian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.
Versi lainnya,
kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan hiu dan Buaya di Jembatan Merah. ini cerita legenda yang sulit ditemukan kesahiahannya.
dan, versi terakhir menyebutkan,
kata Surabaya pertama kali dikenal sebagi sebuah pedukuhan di barat Tegal Bobot Sari, nama ini beserta lingkungan di dalam benteng muncul di jaman pangeran Kudo Kardono berkuasa tahun 1400. Pedukuhan itu sekarang menjadi kampung Surabayan.
*dikutip dari : kissanak.wordpress.com
------- cintai Kota Surabaya, bangun Kota Surabaya -------
Saya menemukan setidaknya enam cerita tentang hal ihwal nama Surabaya. Namun, bisa jadi di luaran sana versi itu bisa jadi bertambah banyak. Tema yang jamak ditulis ini masih menarik dinikmati lagi. Tulisan ini mengandung maksud untuk mengungkapkan sejak kapan nama Surabaya pertama kali disebut. Sebab banyak orang sudah terlanjur percaya jika Surabaya adalah nama baru kelanjutan daerah yang bernama Ujung Galuh. Bukan daerah yang berdiri sendiri sejak lama.
Keterangan pertama menyebutkan,
Bahwa Surabaya berasal dari kata Churabhaya, Ketarangan tentang nama ini itu ditemukan oleh orang-orang ahli arkelogi di prasasti Trowulan I yang dibuat tahun 1358 Masehi. Di dalam prasasti tertulis nama sebuah desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Prasasti itu masih tersimpan di Trowulan, namun nama desanya tidak akan bisa ditelusuri lagi dimana. Bisa jadi desa itu sekarang telah berkembang menjadi kota besar. Surabaya.
Versi yang kedua mengakui,
Nama Surabaya pertama kali disebut karena tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu ada kata Surabhaya, tercatat ada perjalanan pesiar alias berwisata yang dilakukan Raja Majapahit, Hayam Wuruk pada pada 1365. dijelaskan sang raja melepas lelah di muara kali brantas yang bernama Surabhaya.
Namun nama Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sejarahwan Surabaya zaman Belanda, GH Von Faber, dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota. Red) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan 1270 M.
Sedangkan versi ketiga,,
Nama Surabaya berkait dengan cerita perkelahian hidup mati Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar 1929, Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono memimpin daerah itu.
Jayengrono makin kuat karena menguasai ilmu Buaya, Majapahit belakangan merasa terancam. Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di Sungai Kalimas. Perkelahian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.
Versi lainnya,
kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan hiu dan Buaya di Jembatan Merah. ini cerita legenda yang sulit ditemukan kesahiahannya.
dan, versi terakhir menyebutkan,
kata Surabaya pertama kali dikenal sebagi sebuah pedukuhan di barat Tegal Bobot Sari, nama ini beserta lingkungan di dalam benteng muncul di jaman pangeran Kudo Kardono berkuasa tahun 1400. Pedukuhan itu sekarang menjadi kampung Surabayan.
*dikutip dari : kissanak.wordpress.com
------- cintai Kota Surabaya, bangun Kota Surabaya -------
Langganan:
Postingan (Atom)